Tampilkan postingan dengan label Keutamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keutamaan. Tampilkan semua postingan

27 Des 2012

Kiat-kiat Bangun Malam

Kondisi malas dan berat bangun malam untuk mengerjakan shalat Tahajud merupakan problem cukup serius yang menjerat kaum muslimin masa kini. Padahal, para salafush shalih dalam sejarah Islam telah menorehkan prestasi ibadah yang sangat gemilang. Shalat malam bagi mereka merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari.
Setan sangat brilian dalam masalah keburukan, setan mengetahui bahwa bila seorang hamba berkhalwat dengan Rabbnya dikegelapan malam, menghadapkan wajah dan membariskan kedua kaki dalam ketaatan kepada-Nya, serta menyungkurkan diri bersujud kepada-Nya bahwa Allah Ta'ala tidak akan menolak hamba tersebut. Bahkan, Allah akan menerimanya, mengangkat derajatnya, menguatkan imannya dan meneguhkannya pada jalan yang lurus. "cukuplah sebagai kebinasaan dan keburukan bagi seseorang yang tidur hingga pagi, sementara setan telah mengencingi telinganya". (Ibnu Mas'ud)
Karena itulah setan bekerja keras untuk menurunkan semangat manusia dari melaksanakan shalat tahajud. Dalam upaya ini, ada beberapa kiat-kiat yang dapat mempermudah kita untuk bisa melaksanakan shalat tahajud, diantaranya :
  1. Berwudhu Sebelum Tidur
  2. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dengan shahih di dalam Ash-Shahihain, bahwasannya Nabi berkata kepada Bara'bin Azib : "Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat".
  3. Menunaikan Shalat Witir Sebelum Tidur
  4. Hal ini dilakukan bila kita khawatir tidak bisa bangun. Namun, bila kita terbiasa bangun pada malam hari, maka shalat setelah tidur lebih utama dan lebih baik. Ibnu Umar berkata : "Tiada seseorang yang memasuki pagi hari dengan tidak menjalankan shalat witir pada malam harinya kecuali di atas kepalanya pasti ada jarir (tali) sepanjang tujuh puluh hasta".
  5. Membaca Surat Al-Falaq dan An-Nas
  6. Sebelum tidur, satukan kedua telapak tangan, lalu bacakan padanya al-mu'awwidzatain (suratAl-Falaq dan An-Nas), kemudian tiupkan ke kedua telapak tangan dan gunakan untuk mengusap semua anggota badan yang bisa di jangkau, dimulai dari bagian kepala. Tuntunan ini disebutkan di dalam Shahihul Bukhari, dari hadits Aisyah dengan sanad marfu'.
  7. Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah
  8. Hal ini bedasarkan hadits di dalam Ash-Shahihain, dari Abu Mas'ud Al-Anshari bahwa ia berkata : Rasulullah bersabda : "Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, barangsiapa membacanya pada malam hari, maka keduanya mencukupinya". (HR. Bukhari, Fathul Bari, VII : 318 ; dan Muslim, Syarah Shahih Muslim, II : 92). Imam Nawawi mengatakan, "Ada yang berpendapat bahwa maknanya adalah mencukupinya dari shalat tahajud. Yang lain berpendapat, mencukupinya dari gangguan setan. Ada juga yang berpendapat, mencukupinya dari berbagai bencana. Dan ada kemungkinan semua itu benar.
  9. Membaca Satu Surat dari Al-Qur'an.
  10. Hal ini berdasarkan riwayat Ahmad dan Tirmidzi, dari Syaddad bin Aus dengan sanad marfu' : "Tiada seorang muslim yang berangkat tidur, lalu ia membaca satu surat dari Kitab Allah kecuali Allah pasti akan mengirim satu malaikat untuk menjaganya dari segala sesuatu yang menyakitinya hingga ia terbangun.
  11. Membaca Ayat Kursi
  12. Hendaklah kita membaca ayat kursi sekaligus merenungkan dan memahaminya. Sebab, bacaan atas ayat tersebut akan menjadi penjaga kita dari setan hingga pagi menjelang, seperti telah dijelaskan di atas.
  13. Membaca Tasbih, Tahmid, dan Takbir
  14. Membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali sebelum tidur. Tuntunan ini disebutkan di dalam Ash-Shahihain, dari hadits Ali bin Abi Thalib.
Semoga cara ini dapat menuntun kita untuk mencontoh kebiasaan para generasi tua kita, yang sangat rajin melaksanakan shalat Tahajud, amiin. Wallahu A'lam. Powered by Telkomsel BlackBerry®
oleh: H. Zudi Rahmanto, S.Ag, M.Ag.



rating : 5 by : Team Tanbih on:
Author : Attanbih
Save to PDF

15 Des 2012

Keutamaan Ibadah Puasa

Keutamaan Ibadah Puasa
Puasa menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah Swt, serta karena mengharapkan ridho-Nya. Ibadah puasa dilaksanakan juga dengan tujuan menyiapkan diri guna meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Bulan puasa atau ramadhan, adalah bulan yang banyak mengandung hikmah di dalamnya. Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangannya, dan teramat bersedih ketika ditinggalkannya. Seperti apabila kita beribadah selama sebulan penuh, maka akan mendapat balasan pahala yang berlipat ganda. Di bulan ramadhan pula Allah Swt telah menurunkan kitab suci Al Quran yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia, dan menjadi pembeda mana yang benar dan mana yang salah.
dalam bulan ramadhan yang sebagian telah kita laksanakan, akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri, dan sebagainya. Ayat tentang perintah berpuasa itu, dimulai dengan firman Allah Swt: “Wahai orang-orang yang beriman” dan disudahi dengan: “Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa." Jadi jelaslah bagi kita bahwa puasa ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan. Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt kita diberi kesempatan selama sebulan penuh, melatih diri, menahan hawa nafsu kita dari hal-hal yang membatalkan puasa sebagaimana telah diuraikan. Rasullah Saw bersabda:“Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor.” (H.R.Ibnu Khuzaimah).
Puasa Itu Menyehatkan
Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan. Bukan saja karena puasa itu dapat membersihkan rohani manusia, tetapi juga akan membersihkan jasmani manusia itu sendiri. Pendek kata, puasa itu juga berperan sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita selama 11 bulan senantiasa digunakan. Boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam. Dengan berpuasa, kita dapat merehatkan alat pencernaan lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan optimal. Perlu diingat, ibadah puasa ramadhan itu hanya akan membawa faedah bagi kesehatan rohani dan jasmani kita, jika dilaksanakan dengan mengikut panduan yang telah ditetapkan. Tetapi jika hanya dilakukan dengan asal-asalan, maka hasilnya tidaklah seberapa, malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia saja. Allah berfirman yang maksudnya: “Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih- lebihan.” (Qs. al-A'raf: 31). Nabi Saw juga bersabda: “Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang.” Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa muzarat kepada kesehatan kita. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan puasa di bulan ramadhan tahun 1433 Hijriyah kali ini akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita. Insyaallah kita akan bertemu kembali dengan bulan penuh barakah ini pada tahun-tahun mendatang. Amin.
Benteng Diri
waktu terus berlangsung. Tanpa terasa sekian ramadhan telah dilewati. Ini membuktikan bahwa masa sudah saling berdekatan sebagaimana yang di beritakan oleh Nabi Saw. Barangkali sebagian kita telah melalui ramadhan selama enam puluh tahun, ada pula yang lima puluh tahun, empat puluh tahun, tiga puluh tahun, dua puluh tahun, atau lebih maupun kurang. Namun apa hasil yang sudah kita raih untuk kebaikan agama dan akherat kita. Sudahkah tempaan bulan suci ramadhan mampu meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah. Atau masihkah tingkah laku kita sama dengan masa sebelumnya bahkan malah lebih parah? Apabila bertakwa kepada Allah Swt menjadi tujuan yang utama dalam melaksanakan puasa ramadhan, berarti pemenangnya adalah orang yang berhasil meningkatkan mutu ketakwaannya selepas bulan yang suci ini. Tentu sangat ironis, jika seorang yang berpuasa di bulan ramadhan justru lebih jauh dari Allah Swt pada bulan-bulan yang berikutnya. Bahkan, merupakan kesalahan yang besar bila seorang yang berpuasa mau menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat, hanya dalam bulan suci ramadhan dan tak lebih dari itu. Semestinya, fenomena rasa antusias yang sedemikain tinggi untuk melaksanakan ibadah dan menjauhi kemaksiatan dalam bulan suci ramadhan ini, bisa ditularkan pada perputaran waktu yang selanjutnya.
Wahai segenap kaum muslimin, marilah kita menghilangkandari benak kita asumsi bahwa ramadhan hanya sekadar seremonial ritual agama yang di gelar karena adat istiadat umat Islam. Selepasnya, kita kembali kepada keyakinan dan moral yang sudah berlangsung sebelumnya dengan sangat parah dan rendah? Marilah kita menjadikan ramadhan sebagai pendidikan spiritual yang mampu membentuk kita sebagai manusia-manusia berkualitas di mata Allah Swt. Sesungguhnya bulan suci ramadhan ini mengandung berbagai pelajaran dan hikmah yang cukup banyak. Ibarat buah yang sudah ranum di atas pohonnya, dan hanya tinggal menanti siapa yang datang untuk memetiknya. Berpuasa adalah syariat dahulu kala yang diwarisi oleh para nabi dan rasul sampai kepada nabi kita Muhammad Saw. Berpuasa menyimpan keberkatan dan kemanfaatan yang banyak sekali, baik dari sisi agama maupun kehidupan. Oleh karena itu, islam mensyariatkan amalan yang mulia ini bukan hanya pada bulan suci ramadhan.
Selain puasa ramadhan, di sana masih terdapat puasa-puasa yang lainnya, Ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Berpuasa disyariatkan oleh Allah melalui Rosul-Nya adalah dalam rangka meningkatkan mutu ketakwaan kita. Di samping itu, berpuasa dapat menghindarkan kita dari segala gejolak hawa nafsu dan syahwat yang menyesatkan. Singkatnya, dengan berpuasa, kita bisa menyelamatkan diri dari amukan api neraka. Rasulullah Saw bersabda (yang artinya): “Berpuasa itu adalah tameng yang dengannya seorang hamba bisa membentengi diri dari amukan api neraka.” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang selain keduanya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dengan sanad yang hasan) Ya, berpuasa adalah tameng yang membentengi kita dari amukan api neraka. Bagaimana tidak? Dengan berpuasa, kita telah menutup pintu-pintu syaithan yang berada dalam tubuh kita. Rasul Saw bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya syaithan itu mengalir pada diri seorang anak Adam laksana aliran darah”. (HR. Bukhari & Muslim dari Shafiyyah RA). Maka dengan berpuasa, kita telah menutup pintu syaithan untuk menyelusup ke dalam diri kita. Sebab kita telah meninggalkan makan, minum, dan syahwat kita selama berpuasa karena Allah. Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, dan Menanti Hari Raya Idul Fitri 1433 H yang sebentar lagi akan segera tiba.
(Drs. KH. Bardan Usman, M.Pd.I,
Rois Syuriah Pengurus Cabang NU (PCNU) Gunungkidul, Kabag Penamas Kantor Kementrian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta
.)



rating : 5 by : Team Tanbih on:
Save to PDF

24 Apr 2012

Keutamaan Dzikir Berjamaah


(Artikel utama Buletin Tanbih edisi 3 / April 2012)

Di masyarakat muslim kita, terdapat tradisi berkumpul dalam suatu majelis untuk berdoa bersama yang dinamakan tahlilan, mujahadah, istighotsah, dan sebagainya. Terlebih dahulu perlu ditegaskan bahwa tidak semua perbuatan yang tidak dikerjakan pada masa Rasulullah Saw, itu dilarang. Berdasarkan fakta, terdapat banyak hal yang tidak ada di masa Rasulullah Saw, tetapi dikerjakan oleh para sahabat dan tabi’in, kemudian diyakini oleh umat Islam sebagai suatu kebenaran. Seperti shalat Tarawih secara berjamaah sebulan penuh, mengumpulkan al-Qur’an dalam satu mushaf, dan sebagainya. Semua itu tidak pernah dilaksanakan pada masa Rasulullah Saw, namun dilakukan oleh generasi berikutnya—karena memang tidak bertentangan dengan prinsip dan inti ajaran Islam.
Demikian pula dengan tradisi berkumpul untuk berdoa secara bersama-sama atau berjamaah sebagaimana telah disebutkan. Meski tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw, namun hal itu diperbolehkan. Itu karena tidak satupun unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan, secara esensial merupakan perwujudan anjuran dan tuntunan Nabi Muhammad Saw. Al-Syaukani mengatakan: “Kegiatan melaksanakan perkumpulan itu pada dasarnya bukanlah sesuatu yang haram (muharram fi nafsih) , apalagi jika di dalamnya diisi dengan kegiatan yang dapat menghasilkan nilai ibadah.”(Al-Rasail al-salafiyah: 46).
Kesimpulan al-Syaukani ini, tentu saja didukung banyak dasar di antaranya adalah sabda Nabi Muhammad Saw: “Dari Abi Sa’id al-Khudri RA, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir kepada Allah Swt , kecuali mereka akan dikelilingi malaikat. Dan Allah Swt akan memberikan rahma-Nya kepada mereka, memberikan ketenangan hati dan memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (Shahih al-Muslim, 4868).
Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa dzikir secara berjamaah boleh dilakukan, karena lebih banyak nilai manfaatnya daripada nilai madharatnya. Bagi kita Ahlussunnah waljama’ah harus senantiasa berdoa, berdzikir, dengan sirran wa jahran, baik di dalam hati, dalam kesendirian, maupun bersama-sama.
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai makna majelis dzikir, namun keutamaan majelis dzikir ini memang disebutkan dalam hadits Nabawi. Salah satunya terdapat dalam kitab Riyadhusshalihin yang berbunyi: Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling, mereka mengikuti majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemui majelis yang di dalamnya ada dzikir, maka mereka duduk bersama-sama orang yang berdzikir, mereka mengelilingi para jamaah itu dengan sayap-sayap mereka, sehingga memenuhi ruangan antara mereka dengan langit dunia, jika para jamaah itu selesai maka mereka naik ke langit” (HR Bukhari No. 6408, dan Muslim No. 2689).
Hadits di atas dan beberapa hadits lainnya, dijadikan dasar oleh seluruh ulama sepanjang zaman untuk sepakat bahwa berdzikir di dalam suatu majelis itu disunnahkan dan punya keutamaan. Dengan majelis-majelis dzikir tersebut, diharapkan akan kembali tumbuh rasa cinta kepada agama, dan tentunya juga akan menjadi syiar sekaligus benteng dari berbagai macam corak kebudayaan yang justru jauh dari norma agama.
Terlebih untuk mengimbangi cara pergaulan dari kaum muda kita, yang semakin hari menunjukkan kemunduran terhadap minat untuk mendalami ajaran Islam. Nah, di sini juga bisa diambil nilai ajarannya, yaitu pendidikan kepada generasi penerus untuk senantiasa terus berjuang dalam berdakwah, menegakkan aqidah ahlussunah wal jama’ah, serta untuk membentengi diri dari berbagai macam bentuk budaya hura-hura—yang hanya sia-sia dan sama sekali tidak ada manfaatnya.
Dalam Al-Qur`an ada begitu banyak ayat yang memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir. Sementara, penjelasan tentang keutamaannya, terdapat dalam banyak hadits Rasulullah Saw, sebagaimana yang telah dicantumkan di atas. Adapun beberapa keutamaan dzikrullah di antaranya: pertama, memperoleh ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Iman dan kekuatan zikir serta hubungan dengan Allah Swt akan menjadi stabilisator jiwa, sehingga seseorang selalu diliputi ketenangan dan ketentraman karena selalu mengingat Allah.
Kedua, memberatkan timbangan hasanat (kebaikan) di Yaumul Mizan. Kata Rasulullah Saw ada ucapan zikir yang ringan diucapkan, namun sangat berat timbangan kebaikannya, yaitu: Subhanallah, Walhamdulillah, Walaailaha illallah Wallahu Akbar.
Ketiga, dijauhkan dari tipu daya setan dan marabahaya. Dengan seseorang rajin membaca dzikir, misalnya di waktu pagi dan petang, maka ia terhindar dari marabahaya yang datang dari syetan jenis manusia maupun jin. Tidak akan terkena tipu daya syetan, hipnotis, santet, pelet, dan ilmu hitam lainnya.
Keempat, memperoleh keberuntungan dan kemenangan. Sebagaimana firman Allah Swt:“Hai orang-orang yang beriman jika sudah ada adzan/panggilan untuk shalat Jum`at, bersegeralah untuk berzikir kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli, itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Maka jika sudah menunaikan shalat itu, bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah bagian dari karunia Allah dan berzikirlah kepada Allah banyak-banyak agar kalian beruntung/sukses.” (Al-Jumu`ah:9-10).
Kelima, sebagai alat kontrol dan pengendali diri jika sudah berhasil meraih kemenangan dan kesuksesan. Orang yang tidak pernah melakukan zikir, hatinya akan mengeras. Perumpamaan mereka seperti mayat, sebab ruhiyahnya telah mati pada saat jasadiyah masih hidup. Dalam sebuah hadist riwayat Imam Muslim: …sesungguhnya Rasulullah SAW keluar menuju ke sebuah halaqah para sahabat seraya berkata, “Apa yang menjadikan kalian duduk disini?” Mereka menjawab, “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah, memanjatkan puji syukur kepada-Nya, karena Dia telah memberikan hidayah kepada Islam dan menganugrahkannya kepada kami.” Rasulullah SAW bersabda. “Saya tidak meminta kalian untuk bersumpah karena ketidakpercayaanku pada kalian, namun jibril telah datang kepdaku seraya memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan malaikat.“ (HR.Muslim, Tirmidzi dan Nasa`i).
Akhirnya, kita sebagai penerus tongkat estafet ajaran aqidah ahlussunnah wal jama’ah, sudah semestinya menghidupkan kembali majlis-majlis dzikir di lingkungan kita masing-masing. Tujuannya, agar syiar Islam kembali memancarkan kejayaannya, dan terlebih untuk membentengi generasi muda kita dari kemerosotan aqidah. Wallahu a’lam.
(Drs. KH. Bardan Usman, M.Pd.I, Rois Syuriah Pengurus Cabang NU [PCNU] Gunungkidul)


rating : 5 by : Team Tanbih on:
Save to PDF

16 Apr 2012

Keutamaan Shalawat Atas Nabi Muhammad SAW

Sayyid Ahmad bin Tsabit al-Maghriby adalah seorang pecinta salawat kepada Nabi Saw. Ketika bershalawat, Sayyid Ahmad merasakan kegembiraan luar biasa.
Dalam kitab “al-Tafakkur wa al-I'tibar fi fadhli al-Shalat ala an-Nabiyy al-Mukhtar” Sayyid Ahmad mengisahkan jika satu malam dirinya bermimpi menyaksikan dua orang laki-laki yang bertengkar hingga saling cekik. Kemudian salah satunya berkata: “Ayo kita menghadap Rasulullah untuk mencari keputusan”. Merekapun berjalan, sementara Sayyid Ahmad membuntuti dari belakang. Sampailah kami di sebuah tempat yang agak tinggi, lalu salah satunya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini menuduhku membakar rumahnya".
Maka Rasul Saw bersabda: "Apakah kamu ingin melihat dirimu dibakar api neraka?" Lalu aku terbangun tanpa sempat berkata sepatah pun dalam mimpiku itu.
Sayyid Ahmad kemudian berdoa pada Allah agar memperlihatkan padanya kelanjutan mimpi itu. Maka Sayyid Ahmad tertidur. Tiba-tiba, dia sudah berada di sebuah tanah lapang. Sayup-sayup terdengar suara: “Wahai orang-orang yang ingin melihat Rasulullah, ayolah ikut kami”. Tiba-tiba ada rombongan orang yang mengikuti Sayyid Ahmad. Mereka berpakaian serba putih. Maka, Sayyid Ahmad berkata: “Hai kamu, aku minta padamu dengan nama Allah Yang Maha Agung dan dengan kemuliaan Nabi-Nya yang mulia, agar kamu beritahukan kepadaku di manakah Rasulullah Saw? Orang yang ditanya itu menjawab bahwa Rasulullah berada di tempat seseorang.
Maka Sayyid Ahmad berdo'a kepada Allah dengan kemuliaan shalawat kepada Nabi-Nya agar Allah menyampaikan diriku di hadapan Rasulullah sebelum sampainya rombongan itu, agar dirinya dapat berduaan dengan beliau dan mengutarakan keperluannya.
Tiba-tiba Sayyid Ahmad terangkat oleh sesuatu bagaikan kilat membawanya ke hadapan Nabi Saw. “Kudapati beliau sedang menghadap kiblat sementara cahayanya memancar dari wajahnya. Aku pun mengucapkan salam: "Ashshalatu wassalamu alaika ya Rasulallah (salam sejahtra kepadamu wahai Rasulullah)" Lalu Beliau menjawab : "Selamat datang bagimu". [Anton Prasetyo]

Disarikan dari berbagai sumber